Jakarta, Telepon umum pakai sambungan kabel mungkin sudah tidak relevan lagi dengan kondisi saat ini. Nokia Siemens Network (NSN) pun lebih menyarankan nirkabel. Namun bukan sembarang nirkabel, tapi 3G.
Dieter Klien, Head of NSN Indonesia mengatakan, biaya yang diperlukan oleh operator untuk membangun telepon umum berbasis kabel terlalu mahal ketimbang menggunakan nirkabel.
“Dari sisi efisiensi, efektivitas dan ekonomi, menggunakan nirkabel lebih jauh memungkinkan dan implementasinya juga lebih cepat. Sehingga, masyarakat juga bisa segera menikmati,” kata Dieter, saat sesi wawancara khusus di booth NSN, CommunicAsia 2007, Singapore Expo.
Jika operator membangun telepon umum berbasis teknologi generasi ketiga, maka beragam akses teleponi berbasis protokol Internet bisa dirasakan oleh masyarakat, semisal layanan suara (VoIP) dan percakapan tatap muka (video call), serta layanan internet bagi publik.
“Tarif yang dikenakan pada masyarakat pun jadi lebih murah, khususnya bagi yang tinggal di daerah pedesaan,” ujarnya, menambahkan.
Dalam aturan Kepmenhub No. 21/2001 disebutkan, penyelenggara jaringan tetap lokal dan penyelenggara jasa teleponi dasar yang menggunakan jaringan tetap lokal, wajib menyelenggarakan telepon umum sekurang- kurangnya 3% dari kapasitas jaringan terpasang dan sekurang-kurangnya 1% dari kapasitas jaringan terpasang itu merupakan telepon umum koin.
Koneksi Pedesaan
Sebagai penyelenggara infrastruktur jaringan terkemuka, NSN sangat berambisi untuk meraih targetnya, yaitu menghubungkan lima miliar penduduk dunia pada 2015. Demikian di Indonesia, dua nama besar yang melebur ini juga ingin menghubungkan 250 juta penduduk sebagai bagian penduduk dunia. Salah satu caranya dengan membuka pasar baru di area pedesaan..
“Kami sedang melakukan pembicaraan dengan beberapa operator di Indonesia yang ingin membuka pasar baru ke daerah pedesaan,” kata Michael Murphy, Nokia Siemens Head of Technology Asia Pacific.
“Kami membicarakan solusi Village Connection. Dengan solusi ini operator masih bisa mendapatkan keuntungan dalam melayani masyarakat pedesaan, meski ARPU (rata-rata penggunaan per pelanggan) mereka hanya sekitar US$ 2 hingga US$ 3 per bulan,” tuturnya.
Solusi teknologi untuk koneksi pedesaan berbasis seluler GSM itu terdiri dari, perangkat akses poin di area pedesaan dan perangkat di pusat akses di regional. Tiap desa, menurutnya, memungkinkan untuk mengatur sendiri modul akses poin tersebut yang terdiri dari GSM radio, power, perangkat TI dan komponen software.
“Solusi ini juga membuka peluang bagi pengusaha di daerah dengan menjadi operator baru dalam bentuk kerjasama MVNO (Mobile Virtual Network Operator). Jadi semua pihak sama-sama diuntungkan. Operator nasional dapat profit, begitu pula masyarakat desa,” tandasnya.

